Lintas Berita Nasional | Indo News Archive: Politik
Politik Identitas di Indonesia: Antara Partisipasi dan Ancaman Disintegrasi

Politik Identitas di Indonesia: Antara Partisipasi dan Ancaman Disintegrasi


Politik identitas telah menjadi fenomena yang tak terpisahkan dari dinamika demokrasi Indonesia pasca-reformasi. Di satu sisi, ia bisa menjadi alat perjuangan bagi kelompok terpinggirkan; di sisi lain, ia kerap menjelma menjadi senjata elektoral yang mengancam kohesi sosial. Memahami dualisme ini menjadi kunci untuk menjaga masa depan demokrasi Indonesia yang majemuk.


Memahami Politik Identitas dan Batasannya


Politik identitas merujuk pada praktik politik yang mendasarkan diri pada kesamaan identitas baik agama, etnis, ras, maupun gender—sebagai klasifikasi utama dalam kontestasi politik . Menurut pandangan Agnes Heller, politik identitas pada tataran praktis sering digunakan sebagai alat manipulasi untuk menggalang dukungan demi kepentingan pribadi atau kelompok tertentu .


Penting untuk membedakan antara politik identitas dan identitas politik. Mantan Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan RI, Mahfud Md, menjelaskan bahwa identitas politik misalnya memilih calon karena kesamaan agama atau etnis adalah hal yang wajar dan dibolehkan. 


Yang tidak boleh adalah politik identitas, yaitu cara berpolitik yang mengutamakan kelompok primordial dan menganggap pihak lain sebagai lawan atau musuh yang harus dihabisi .


Akar Historis dan Pemicu


Politik identitas di Indonesia memiliki akar yang panjang. Pada masa kolonial, pemerintah Hindia Belanda menerapkan kebijakan yang membagi warga negara menjadi dua kelas: penduduk asli dan Tionghoa kelas atas yang diberikan hak istimewa dalam bidang ekonomi . Diskriminasi berkelanjutan terhadap etnis minoritas ini merupakan hasil dari strategi rekayasa sosial yang digunakan untuk mempertahankan kekuasaan.


Dalam era demokrasi pasca-reformasi, politik identitas menemukan lahan subur. Desentralisasi dan otonomi daerah membuka ruang bagi kontestasi kekuasaan di tingkat lokal yang sering kali melibatkan mobilisasi identitas etnis dan agama . 


Fenomena ini diperparah oleh ketimpangan ekonomi dan ketidakadilan politik yang mendorong kelompok-kelompok masyarakat yang terpinggirkan untuk mengidentifikasi diri dengan identitas primordial dan keagamaan sebagai bentuk perlawanan .


Puncak Politisasi Identitas: Pilkada DKI 2017 dan Pilpres 2019


Momentum yang paling menonjol dalam politisasi identitas di Indonesia adalah Pilkada DKI Jakarta 2017. Kontestasi antara Anies Baswedan dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menjadi titik balik di mana isu agama dieksploitasi secara masif. 


Aksi Bela Islam yang digelar sebagai respons atas pernyataan Ahok terkait Surah Al-Maidah menjadi fenomena yang mengubah lanskap politik nasional . Polarisasi yang tercipta tidak hanya memengaruhi hasil Pilkada, tetapi juga membentuk peta dukungan pada Pilpres 2019.


Pada Pilpres 2019, politik identitas kembali dimainkan. Joko Widodo diidentifikasi sebagai kandidat yang kurang mewakili kelompok Islam, sementara Prabowo dianggap lebih merepresentasikan aspirasi umat Islam . 


Dikotomi ini tercermin dalam hasil pemilihan di berbagai daerah. Di Sumatera Barat, misalnya, Jokowi-Ma'ruf Amin hanya memperoleh 14,05 persen suara meskipun sering berkampanye di sana, karena isu-isu keagamaan telah terbangun kuat selama masa kampanye .


Dampak terhadap Kohesi Sosial dan Demokrasi


Politik identitas yang destruktif telah terbukti mengganggu kohesi sosial dan nasionalisme Indonesia. Beberapa dampak yang teridentifikasi antara lain:


  1. Fragmentasi Masyarakat: Kelompok identitas tertentu cenderung mengisolasi diri dari kelompok lainnya, menciptakan sekat-sekat yang mempersulit dialog dan kerja sama .
  2. Melemahnya Solidaritas Sosial: Ketika kelompok identitas lebih fokus pada kepentingan mereka sendiri, kesadaran akan kepentingan bersama mengabur dan solidaritas sosial melemah .
  3. Dominasi Mayoritas terhadap Minoritas: Politik identitas memunculkan gejala hegemoni mayoritas yang memanfaatkan posisi demografis untuk mendapatkan keuntungan politik atas minoritas, misalnya melalui slogan "pilih pihak yang mayoritas" .
  4. Ancaman terhadap Kerukunan Beragama: Politik identitas berbasis agama bukan hanya mengancam semangat nasionalisme, tetapi juga dapat menghancurkan bangunan kerukunan umat beragama. Agama "diperalat" untuk kepentingan politik, menciptakan perpecahan yang kontradiktif dengan nilai-nilai ajaran agama itu sendiri 
  5.  Intoleransi dan Diskriminasi: Di beberapa daerah, politik identitas telah memicu peningkatan kasus intoleransi. Jawa Barat, misalnya, dicap sebagai "zona merah" intoleransi dengan 38 peristiwa besar pada 2025, termasuk penolakan pendirian rumah ibadah dan pembubaran kegiatan keagamaan kelompok minoritas .


Konservatisme dan Tantangan Demokrasi


Fenomena politik identitas tidak dapat dilepaskan dari gelombang konservatisme yang melanda Indonesia dalam satu dekade terakhir. Penelitian menunjukkan bahwa konservatisme Islam dan populisme menjadi kekuatan religius yang mengganggu demokrasi elektoral . 


Isu-isu identitas, konservatisme, dan populisme Islam akan terus tumbuh jika kekuatan Islam moderat seperti Muhammadiyah dan NU tidak tampil dalam kehidupan politik dan keagamaan .


Di tingkat lokal, studi di Madura menunjukkan bagaimana media sosial justru memperkuat pandangan keagamaan konservatif alih-alih mendorong partisipasi politik yang inklusif. 


Dukungan signifikan terhadap kepemimpinan ulama dan implementasi syariat Islam menggambarkan bagaimana ruang bagi pluralisme dan kebebasan berekspresi dua nilai inti demokrasi menjadi terbatas .


Strategi Meminimalisasi Dampak Negatif


Menghadapi tantangan ini, beberapa strategi dapat diterapkan untuk meminimalisasi dampak negatif politik identitas:


Pendidikan Politik yang Komprehensif: Masyarakat perlu dididik agar lebih cerdas dalam berpolitik, sehingga tidak mudah terjebak oleh mereka yang memanfaatkan label agama, ras, maupun gender hanya untuk memperoleh kekuasaan . Pendidikan Pancasila dan wawasan kebangsaan perlu diperkuat di sekolah, kampus, dan pesantren .


Penguatan Masyarakat Sipil dan Ormas Moderat: Peran aktif organisasi masyarakat sipil dan tokoh agama yang mendorong toleransi menjadi kunci. Dialog lintas iman dan kelompok sosial perlu terus dibangun untuk membangun kesepahaman bersama .


Partai Politik Inklusif: Partai politik perlu mengembangkan platform yang inklusif dan tidak bergantung pada mobilisasi identitas sempit. Rekonstruksi hukum pemilu, termasuk penghapusan rezim presidential threshold, dapat mengurangi insentif bagi praktik politik identitas .


Penegakan Hukum dan Keadilan Sosial: Negara harus hadir untuk menegakkan hukum secara adil dan netral, serta mengatasi ketimpangan sosial yang menjadi akar dari marginalisasi kelompok-kelompok tertentu .


Politik identitas di Indonesia adalah fenomena yang kompleks dengan dua wajah yang saling bertentangan. Di satu sisi, ia dapat menjadi instrumen perjuangan bagi kelompok yang termarginalkan untuk memperoleh representasi dan keadilan. 


Di sisi lain, ketika dimobilisasi secara destruktif untuk kepentingan elektoral semata, ia menjelma menjadi ancaman nyata bagi persatuan bangsa.


Kunci untuk menavigasi politik identitas terletak pada kemampuan kolektif bangsa ini untuk membedakan antara identitas politik yang sehat dan politik identitas yang destruktif. Selama identitas dipahami sebagai kekayaan yang memperkaya demokrasi, bukan sebagai senjata untuk meniadakan yang lain, Indonesia dapat terus merawat kebhinnekaan yang menjadi fondasi negara ini.


 Konsolidasi demokrasi hanya dapat terwujud melalui politik identitas yang inklusif, adil, dan berorientasi pada persatuan nasional. (*)

Kasus Rusuh 27 Agustus 2026, Prabowo Buka Suara Siapa Dibalik Peristiwa Tersebut

Kasus Rusuh 27 Agustus 2026, Prabowo Buka Suara Siapa Dibalik Peristiwa Tersebut


Presiden RI Prabowo Subianto menjawab pertanyaan terkait laporan intelijen ke dirinya soal dugaan aktor intelektual di balik kerusuhan 27 Agustus lalu.


Hal itu disampaikannya saat  mengundang sejumlah pimpinan redaksi dan pengamat ke kediamannya di Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat (Jabar) beberapa waktu lalu.


Prabowo mulanya menyampaikan bahwa korupsi harus musnah dari bumi Indonesia. Ia mengatakan, upaya itu pun pasti akan mendapatkan perlawanan dari para koruptor.


Setelahnya, salah seorang peserta diskusi, Rivana Pratiwi, kembali bertanya kemungkinan para koruptor itu melawan dan berada di balik kericuhan tersebut.


"Ya, jadi saya sudah menyampaikan Indonesia selamat kalau kita bisa berantas korupsi, ya jelas koruptor-koruptor enggak suka kan?" kata Prabowo dalam forum yang menjadi bagian dari Program Presiden Prabowo Menjawab, Jumat (18/9).


"Berarti mereka yang mengerahkan massa-massa itu pak? Yang ingin merusak situasi?" tanya balik Rivana.


"Ya kira-kira?" tanya balik Prabowo menimpali pertanyaan yang dilemparkan kepadanya.


Prabowo juga menyampaikan bahwa ia turut menerima informasi adanya dugaan aliran dana di balik kericuhan.


Ia mengklaim anak-anak di bawah umur telah ditipu daya oleh oknum untuk membuat ricuh. Itu, kata dia, pun sudah diakui sejumlah anak-anak itu bahwa mereka dijanjikan sesuatu.


"Anak-anak itu kalau kita kumpulkan ngaku, dibayar Rp100 ribu, dijanjikan Rp200 ribu, disuruh ini disuruh itu, ada yang dikasih obat dan sebagainya," ucap dia yang juga Ketua Umum dan Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra tersebut..


Pada saat itu, Prabowo juga ditanyakan dugaan lawan politiknya di balik kerusuhan ini.


Namun, ia tidak menjawab tegas. Ia hanya mengatakan jika hendak memberantas narkoba, maka mafia narkoba takkan diam dan pasti akan melawan balik.


Ia pun mengaku pemerintah tengah memburu aktor intelektual di balik kericuhan, dan mengklaim sudah mulai menemukan titik terang.


"Kita sudah ke arah situ," kata dia. (CNN INDONESIA)


Kerap Kritik Pemerintah, Prabowo sindir Pakar : Saking Pintarnya Jadi Goblok !

Kerap Kritik Pemerintah, Prabowo sindir Pakar : Saking Pintarnya Jadi Goblok !


Presiden Prabowo Subianto melontarkan kritik terhadap sejumlah pihak yang disebutnya sebagai pakar, tetapi kerap menyampaikan tudingan yang dinilai tidak berdasar.


Prabowo bahkan menyebut ada pakar yang justru menjadi "goblok" karena merasa terlalu pintar.


Pernyataan itu disampaikan Prabowo saat berpidato dalam peringatan HUT ke-28 Partai Amanat Nasional (PAN) di Jakarta, Jumat (18/9).


"Terserah pakar-pakar yang menganggap dirinya pakar, saking pintarnya jadi goblok. Ini masalahnya di tengah kawan-kawan sejati," kata Prabowo.


Prabowo kemudian mengaitkan pernyataannya dengan latar belakang PAN yang dinilainya memiliki basis agamis. Dia menyinggung ajaran Islam mengenai fitnah dengan mengutip Surah Al-Baqarah ayat 191.


"Tapi benar PAN kan ada basis agamis. Kalau tidak salah ada hadis yang bunyinya fitnah lebih kejam daripada pembunuhan, surat Al-Baqarah ayat 191," ucap Prabowo.


Menurut Prabowo, terdapat sejumlah orang yang menggunakan status sebagai pakar untuk menyampaikan tudingan yang dia kategorikan sebagai fitnah. Meski demikian, dia mengatakan tidak ingin memperpanjang persoalan tersebut dan memilih mencatatnya.


"Ada beberapa pakar, saking pakarnya dia melontarkan fitnah. Tapi sudahlah, kita bangsa besar, kuat, saya pun mencatat saja," ujarnya.


Prabowo juga menekankan pentingnya kejujuran intelektual bagi seseorang yang memiliki kapasitas sebagai cendekiawan atau pakar. Menurut dia, kemampuan intelektual semestinya disertai dengan sikap jujur dalam menyampaikan pandangan.


"Kalau Anda mempunyai kepintaran, kalau Anda punya kepakaran, seorang cendekiawan itu harus jujur. Itu namanya kejujuran intelektual," tegasnya.


Dia kemudian menyinggung pihak yang disebutnya mengabdikan diri kepada kepentingan bangsa lain. Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo ketika berbicara mengenai sikap dan loyalitas dalam menjalankan kepakaran.


"Apalagi kalian mengabdi kepada kepentingan bangsa lain," beber Prabowo.


Prabowo menegaskan komitmennya untuk mengabdikan diri kepada negara dan memperjuangkan kesejahteraan masyarakat. Dia mengungkapkan, ingin melihat Indonesia menjadi negara yang dihormati sekaligus memastikan tidak ada rakyat yang hidup dalam kondisi kelaparan.


"18 tahun saya siap mati untuk negara ini. Saya ingin membela bangsa saya untuk melihat suatu saat Indonesia terhormat, rakyat Indonesia tidak ada orang lapar di Indonesia," ucap Prabowo.


Prabowo juga menyoroti persoalan kesehatan dan pemenuhan gizi anak. Dia berharap tidak ada lagi orang tua yang kesulitan ketika anaknya sakit maupun anak-anak yang harus pergi ke sekolah tanpa makan.


"Biar tidak ada bapak dan ibu yang bingung melihat anaknya sakit. Tidak ada anak di Indonesia yang berangkat sekolah kelaparan," tuturnya.


Dia menilai kekurangan gizi dapat memengaruhi pertumbuhan anak, termasuk kondisi fisik, sehingga dapat berdampak pada kemampuan mereka untuk bersaing di masa mendatang.


"Tidak ada anak-anak di Indonesia yang stunting, tidak dapat gizi, sehingga tulangnya lemah, otot-otot yang lemah, tidak bisa bersaing dengan anak-anak bangsa lain, saya tidak ingin lihat itu. Itu bukan sumpah saya," urainya.


Karena itu, Prabowo kembali menegaskan tekadnya untuk membawa Indonesia menuju kondisi yang lebih sejahtera. Dia menyebut kesejahteraan rakyat sebagai bagian dari sumpah pengabdiannya kepada bangsa dan negara.


"Saya bersumpah untuk melihat Indonesia sejahtera. Itu sumpah saya," paparnya. (JAWAPOS)

Singgung Backing Tambang Illegal, Prabowo Minta TNI Tegakkan Disiplin

Singgung Backing Tambang Illegal, Prabowo Minta TNI Tegakkan Disiplin

 

Presiden RI Prabowo Subianto meminta para pejabat di lingkungan TNI untuk berani menegakkan disiplin dengan menindak setiap pelanggaran yang ada sekaligus menjadi contoh bagi anak buah mereka. "Ya saya ingatkan adik-adik saya, junior-junior yang memegang kepemimpinan di TNI dan di mana-mana, saya ingatkan bahwa sebagai pemimpin kita harus berani menegakkan disiplin ke dalam dan memberi contoh ke dalam," kata Prabowo dalam Program Presiden Prabowo Menjawab, dikutip pada Jumat (18/9/2026). 


Prabowo pun mengimbau semua lembaga, termasuk TNI, untuk memperbaiki diri, serta meningkatkan kompetensi dan profesionalitas. Sebab, menurut dia, aksi penyelewengan, tidak disiplin, korupsi, kerap menjangkiti semua institusi.


"Jadi kita harus memperbaiki pendidikan dan saya juga sudah, sudah memberi istilahnya isyarat atau himbauan ke semua lembaga untuk membersihkan diri masing-masing. Leadership masing-masing. Termasuk TNI," tutur dia.


Prabowo pun menyinggung adanya praktik backing tambang-tambang ilegal yang dilakukan orang-orang berkuasa.

 

"Ya kalau ada umpamanya tambang-tambang ilegal, biasanya itu dapat backing. Dapat perlindungan. Dari siapa? Ya dari mereka yang punya kekuasaan kan," kata Prabowo. Menurut dia, setiap penyelewengan dan kegiatan ilegal seperti itu justru harus ditertibkan. 


"Ya ini, ini yang harus kita, kita tertibkan. Makanya makanya pekerjaan Indonesia ini tidak, tidak gampang kita. Tapi harus kita lakukan," kata dia


Prabowo pun mengaku sering memberikan pengarahan kepada jajaran TNI soal nilai-nilai kepemimpinan. Bahkan, Prabowo juga menilai seluruh kementerian/lembaga perlu direvitalisasi. 


"Jadi setiap saya kasih pengarahan kadang-kadang kepada komandan-komandan batalion ke atas, saya kasih slide-slide ini. Saya paparkan. 'Kamu mau negaramu seperti ini terus?'," ucap Prabowo. "Karena kamu nanti yang akan ambil alih. Kalau ini diteruskan, susah Indonesia bertahan. Jadi itu, itu tantangannya itu.


Memang bener. Semua institusi harus kita apa? Revitalisasi. Dan ini butuh leadership yang bagus dari pejabat-pejabat yang mimpin," sambung dia. (KOMPAS)